The people who are trying to make the world worse are not taking a day offBob Marley
- 1st June
2012 - 01
- 31st May
2012 - 31
Membaca dan Menulis
Benarkah kini bangsa kita telah rabun membaca dan lumpuh menulis?” (Taufik Ismail, 1998)
Saya, tak punya latar pendidikan sastra selain pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia selama SMA yang hanya 2x2 jam setiap minggunya. Bolehlah mohon maklum jika isi blog saya lebih sering awut-awutan tata bahasanya. Kadang bilingual, kadang sopan dan serius, kadang sekedar curhat dan unek-unek, kadang brutal kayak preman dengan gaya elo-gue-an. Tapi kalau boleh dibilang, saya sangat menggemari sastra. Sejak kecil saya kutu buku. Buku apa saja yang ada selalu ingin baca. Buku cerita fiksi adalah favorit saya.
Pada satu kesempatan, perpustakaan SD saya sedang melakukan perombakan. Buku-buku lama akan diganti dengan buku-buku baru. Sore itu kebetulan saya masih di sekolah, dan dengan hebohnya langsung nanya ke petugas apa boleh saya simpan di rumah buku-buku yang akan dibuang itu. Hasilnya, seminggu itu saya banyak habiskan dengan membaca kisah-kisah petualangan Tom Sawyer, kisah 4 sahabat yang berkemah di sebuah desa, kisah dilema amplop merah jambu yang ketumpahan susu cokelat, kisah pohon bonsai dan banyak lagi. Plus, karena hari itu saya ikut bantu-bantu beresin perpustakaan, saya dihadiahi 5 buku cerita baru oleh petugas perpus, ada kisah Omotaro dan Momotaro, kisah Kebun Anggur, Jejak Sang Guru dan sebuah buku berbahasa inggris yang saya sudah lupa judulnya.
Sedari kecil sangat suka menulis. Menulis apa pun. Dulu karena SD saya tidak punya mading, saya nodong guru Bahasa Indonesia saya untuk mengaktifkan kembali mading, beliau kemudian mengirim cerita. Akhirnya kisah berjudul “Pohon Angker” yang saya tulis waktu kelas 4 SD itu menjadi awal aktifnya kembali mading sekolah kami. Sejak itu, setiap dua minggu sekali, Pak Toni mengganti isi mading dengan tulisan karya para siswa.
Meski ga istiqomah-istiqomah banget, saya juga cukup rajin nulis diary. Lebih sering isinya tulisan-tulisan absurd yang mungkin hanya saya yang bisa mengerti haha. Dulu pas SMA, hobi menulis saya berkolaborasi dengan hobi menggambar saya, jadilah saya sering bikin semacam komik strip, atau kadang cuma gambar-gambar aneh yang saya corat-core di binder sahabat saya Vidia :D
Daftar buku bacaan saya pun cukup alhamdulillah. Kelas 5 SD saya sudah tamat 2 buku Hamka, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, dan di Bawah Lindungan Ka’bah. Kisah-kisah anak terjemahan seperti Secret Seven, The Naughty Girl, Tom Sawyer serta dongeng-dongen Hans Christian Anderson juga jadi favorit saya. Semasa SMP jumlah sekaligus jenis bacaan saya meningkat drastis, dunia teenlit, dunia komik-komik Jepang yang benar-benar menghipnotis saya. Saya bisa menghabiskan waktu berjam-jam di perpustakaan sekolah atau perputakaan daerah yang hanya tinggal menyebrang jalan kalau dari sekolah saya. Dari sana kegemaran saya menulis cerita fiksi bangkit kembali. Kalau SD saya gemar menulis kisah petualangan dan detektif ala anak SD, di SMP, mulailah kisah-kisah dunia puber saya. Ah, kalau buka-buka buku-buku catatan yang malah beralih jadi buku cerita saya, malu sendiri jadinya. Cupu abis, haha.
Semasa SMA adalah masa-masa menulis saya yang paling subur sepertinya. Kelas 1 SMA saya mulai mengenal dunia blog. Dari sana saya belajar lebih banyak menulis, berinteraksi dengan orang-orang yang juga suka menulis. Serunya, persahabatan saya yang berawal dari dunia blog itu awet banget sampe sekarang. Selain itu banyak hal yang menginspirasi saya untuk menulis. Kawan-kawan sekelas saya yang ajaib, cerita-cerita di Remaja Masjid Sekolah, di OSIS, ah, Smansa Gresik memang selalu penuh cerita. Saya paling produktif menulis ketika kelas tiga, entah kenapa. Mungkin saat itu saya memang paling sering mengalami turbulensi hati, haha. Benar, menulis itu menyembuhkan!
Menulis itu bikin kita makin bersyukur, saya sepakat itu. Melihat catatan-catatan dulu, bagaimana saya menemui kesulitan, bertekad menghadapinya, kemudian Allah menguatkan dan saya bisa mewujudkan… Makanya setuju banget kalau kita mesti punya catatan harian :)
- 31st May
2012 - 31
Hujan dan Bunganya
Hujan
Pada bunga manapun
Tak pantas berucap janji
Rintiknya tak pernah tahu
Entah akan menjumpa apa
Tertakdir pada siapa
Bunga atau mungkin juga gulmaNamun hujan
Tak layak membenci awan
Mencaci angin
Atau merutuki langit
Karena tiap rintik
Tertera nama pemiliknya
Pada siapa ia kan bersuaNamun akhirnya
Janji langit kan tunai jua
Bahwa pada suatu masa
Hujan akan menyapa bunganyaachmadlutfi
wolfsburg, 290512
- 30th May
2012 - 30
Memanusiakan Manusia
Despite of its boring spinning romance plot for a drama which is supposed to be kinda mistery-detective drama, I can remember clearly one of scenes in City Hunter. My most memorable scene in that drama is when a little boy was about to buy a birthday gift for his mother. His mother suffer cancer due to dangerous chemical matter in factory she used to be labor at.
The little boy obviously didn’t have enough money, so that he collect money from people who bought soft drink in a machine and accidentally dropped their coins. After his saving was enough, he went to the store. However the cashier refused to serve him due to his huge amount of coins. She said that the store couldn’t accept payment with that small value of money. The boy insists that he should buy gift for his dying mother, yet the cashier kept refusing. Couldn’t stand the situation Lee Minho took a bank check from his wallet, and asked the cashier whether she had enough money to give him change. The cashier looked at the check and got speechless due to the amount of money stated in the check. She said with lower voice—very contrast from the she talked to the kid— that she couldn’t give change for that check. Sarcastically, Minho asked her why she refused to serve payment with the kid’s coins when she didn’t need to give any change, while she couldn’t give him change with his check either….
Kejadian hampir serupa gue alamin baru-baru ini (ujung2nya balik lagi lo-gue haha). Gue termasuk orang yang jujur aja paling ga enak kalo ditanyain “ga ada uang pas aja mbak?” Gue bakal ngerasa cukup bersalah kalo harus ngerepotin orang cari-cari tukeran uang. Makanya kalo mau pergi-pergi pake angkot, gue hampir selalu udah sedia cukup uang receh buat bayar. Kalo ga ada gue biasa nyempetin mampir ke al*a mart (naon pake disensor segala) buat beli apapun demi “nukerin uang”. Yang sebel kalo di toko retail segede itu ditanyain juga ada uang pas atau nggak. Padahal itu sih gue yakin kasirnya aja yang males buka cash box. Karena kenyataannya setiap gue bilang “gak ada”, kasirnya pasti masih bisa kasih gue kembalian cukup.
Nah sekitar minggu lalu, gue pas banget lagi ga ada uang cash sama sekali, sementara gue harus naik ojek buat kuliah. Atm gue hari sebelumnya lagi ga bisa dipake. Alhasil statusnya gue lagi bener-bener ga ada uang. Akhirnya nguprek simpenan recehan gue, yakin kalo 2000 doang buat ongkos ojek mah pasti ada.. Hasilnya gue bayarlah abang ojek dengan 3 koin 500an dan 3koin 200an.
Seketika, gue speechless waktu gue ngucapin terimakasih, si abang ojek diem aja ngelihatin uang recehan di tangannya sambil kemudian melengos kesel, terus pergi gitu aja. Serius gue ngerasa itu ga sopan banget. Entah ya, bilang gue kolot, sok idealis atau apa lah… Tapi perlakuan kayak gitu, menurut gue bener-bener nunjukin “kelas” orang itu.
Sama banget sama kejadian di City Hunter, gue bayar ga kurang satu rupiah pun. Dan kalo misalnya gue bayar pake uang gede pun, belum tentu dia ada kembalian.
Duh, entah ya, tapi hal-hal kayak gini buat gue penting banget! Gue pernah hampir marah waktu ada orang lain diperlakukan kayak gitu, dan sekarang gue sendiri yang ngalamin hal itu…
Gue cerita ke akang, dan dia malah bilang “terus mau ngajakin berantem tukang ojeknya?”
Huhu, bener juga sih. Tapi tetep aja sore itu gue gondok abis sama tukang ojek itu (padahal ketemu lagi juga belum tentu, haha).
“Treat people like you want to be treated”
Itu postulat paten tentang gimana kita harus bersikap dalam hidup.
Gue ingat dulu pernah jalan-jalan sama Babeh di Ramayana. Waktu itu kita lagi di deket kasir. Tetiba ada nenek-nenek ngehampiri mas kasir itu.
” Nak, saya beli sabun” katanya pelan.
Gue speechless, Babeh juga, cuma bisa ngelihatin situasi super awkward itu.
Mungkin, memang itu kali pertama nenek itu datang ke Ramayana. Ya, mungkin. Whatsoever lah soal itu, karena kalian tau apa yang dilakukan mas kasir itu? Dengan ramah beliau antar nenek itu ke tempat display sabun, ditunggui nenek itu memilih sambil nanya harga masing-masing produk, sampe kembali ke kasa untuk bayar dan akhirnya nenek itu pulang.
Itu maksud gue tentang “kelas” manusia… Dilihat dari kondisi ekonomi, mungkin tukang ojek itu sama kayak mas kasir tadi. Tapi ini soal “kelas”… “Kelas” manusia itu bergantung pada kemampuannya “memanusiakan manusia”
Ya kan?
Peace, Za’s out! :)
- 28th May
2012 - 28
…bangunlah dari lalai karena kematian teramat dekat.Hana Nika Rustia (via kuntawiaji)
- 28th May
2012 - 28
Loc: Masjid Raya Kota Medan
- 25th May
2012 - 25
99
Tuhanku,
jika tak tulus jiwaku
halangilah segala hasratku untuk pandai dan mengerti kenyataan ini.
Namun jika Kau lihat cukup ketulusanku
anugerahkan setetes ayat-Mu agar menjadi tindakanku.
Tuhanku,
di luar ketulusan hati
bahasa-Mu takkan bisa kupahami.
Kami mengembara ke hutan-hutan
dikungkung kesombongan yang tak kami sadari.
Tuhanku,
seribu samudera ilmu-Mu
jumlah tak terkira kesanggupan-Mu.
Tidaklah kuimpikan cuma tumbuhkan kemampuanku
menjadi setetes air bergabung di samudera itu.
Emha Ainun Najib
- 24th May
2012 - 24
(Source: nourelhousna, via rarafadzil)
- 23rd May
2012 - 23
Cinta yang sejati itu
dinamis dan campuran gado-gado
dari tertawa terpingkal-pingkal
mengenai sesuatu yang tidak lucu,
bertengkar hebat karena sebab yang sepele,
cemburu berpotensi talak ke 47 yang tak beralasan,
gemes tanpa sebab, sebel kesumat tanpa alasan,
dan mabuk kangen padahal dia dekat.
Cinta yang sejati itu tidak logis,
tapi menjadikan semuanya serasa masuk akal.
Mario Teguh - Loving you all as alwaysMario Teguh (via marioteguh)(via yenirachmawati)
- 21st May
2012 - 21
Apologizing doesn’t always means that you’re wrong | Courtesy
FOLLOW BEST LOVE QUOTES ON TUMBLR FOR MORE LOVE QUOTES
(via sayingimages)